Iveta Rahmalia, manusia yang sedang sibuk jatuh ke dalam dunia lukis cahaya.
Banyak pisang goreng, milo, coklat, dan udang di pikirannya.
Suka menulis perjalanannya di http://ivetarh.blogspot.com/

Katanya

Mungkin sudah jalannya, ceritamu tentang kita kau jadikan karya.

Bukan untuk disimpan sendiri, tapi sekadar untuk dihakimi.

Bukan untuk dinikmati, tapi untuk dihujat sampai mati.

Hancurkan saja, biarkan sampai tak bersisa.

Tak perlu kau kemas rapi dengan deretan kata andalan, bila akhirnya kau seret-seret untuk dipamerkan di jalan.

Kutunggu kau di danau yang pekat dengan mimpi sia-sia di dekat rumahmu.

Lemparkan kata yang ingin kau lemparkan kepadaku keras-keras.

Aku ada di antara angin yang buru-buru ingin pergi.

Tak perlu kau lihat wujudku di sana. Aku berani bertaruh, kau tak akan berani mengeluarkan sepatah kata pun tentang cerita kita di hadapanku.

Bukan begitu? Seperti biasanya.

Paus Berhati Unta

(hanya) tiba-tiba ingat. Lalu rindu.

Terima kasih karena telah membuatku belajar tidak peduli.

Membiarkan rasa bersalah mengalir tanpa menampungnya.

Membuang perhatian-perhatian yang luber tak jelas untuk apa.

Membiarkan rasa ingin tahu menguap tak tersisa.

Sampai jumpa, sampai aku bisa.

Rrrrr

Ada ribuan emosi yang ingin menghadang jalannya langkahmu. Mereka mengawasimu sedari jauh. Membawa mawar putih yang berlumur darah. Mengangkat ketulusan yang mati ditusuk khianat yang berkarat.

Mereka adalah budak-budak ketidakpedulianmu yang memberontak. Merobek setiap milimeter kulit dan menghancurkan tulang dalam tubuh ini.

1607 15:00

Sukar

Untuk hanya sekadar berkabar.

Surat

Kepada Sang Keramaian.

Entah harus mencari di mana lagi, jawaban tentang aku yang selalu hilang, tenggelam karena dirimu.

Aku selalu mendadak berubah menjadi makhluk tembus pandang, jika berada di antara para penganutmu.

Aku bosan menjadi setetes air di antara geliat api yang hilang kendali.

Aku tak ingin kembali menjadi bayangan samar-samar di belakang pestamu, tapi entah bagaimana caranya.

Penganutmu adalah juaranya berpura-pura peduli dan ahlinya melupakan makhluk seperti aku.

Salam,
Aku yang sedari tadi duduk di belakangmu.

Permisi, Ambisi.

Ada banyak ambisi yang tenggelam di antara rasa malu yang terus mengalir. Ada juga yang berteriak di ruang gelap tak berpenghuni. Lalu, kadang ada beberapa yang berjalan dengan satu kaki, tanpa bantuan siapa-siapa.

Lalu?

"Dengan semangat yang mulai berkarat, ia datang penuh isyarat. Sekarat."

Irh

Opret Capek Hati

Rasanya ingin meledak, melihat apa yang kita mau ada di depan mata, tapi terhalang bayang-bayang tangan orang lain. Apalagi melihat orang lain dengan mudahnya mematahkan semangat yang sudah kita bangun susah payah.

- Apa lagi yang diperjuangkan?
Masih banyak.

- Apa lagi yang harus dilakukan? Bangun kembali semangat yang lebih kokoh.

- Lalu, orang yang mematahkan semangatmu?
Sentil.

Ada banyak cerita yang kutulis tentang kita di kertas ini. Sebagian sudah kuhapus karena terlalu cengeng. Ada juga yang kutulis dengan hiasan yang berlebihan. Silakan melihat-lihat, mungkin ada kisah yang tak sengaja kau lupa.

Oh ya, mudah-mudahan kau tidak tertipu dengan khayalan yang terselip di sini. Maklum, aku ternyata masih manusia sekali.

Sadar?

Aku masih bermimpi untuk kembali menyambung senyum yang pernah memantul di layar ponselmu.

Aku masih berusaha mengutak-atik kata menjadi kalimat yang tak akan kau lupakan.

Aku masih mengantungi canda untuk membuatmu tertawa.

Aku masih menyimpan ribuan surat yang kubaca bersamamu.

Aku bahkan masih berjalan di atas pecahan harapan yang terus menyobek semangat di belakangmu.

Apa yang ia lakukan adalah mempertahankan ingatan lama, sementara apa yang mereka lakukan adalah mencari ingatan baru. Selalu ada, kadang bergantian.

Ada yang salah dengan pandanganmu. Sepertinya ia tak setuju dengan senyum dan tawamu sendiri. Tatapannya tajam penuh benci, tapi berusaha ingin memeluk tubuh ini.

Saat namamu ada di ujung bibir, mata tak bisa menahan cahaya yang memancar terburu-buru. Panas mulai menjalari pipi, lalu jantung mulai menggetarkan kepala.

Silakan diingat, di saat itulah aku sadar, kita berdiri di masing-masing sisi yang berjauhan.