Iveta Rahmalia, manusia yang sedang sibuk jatuh ke dalam dunia lukis cahaya.
Banyak pisang goreng, milo, coklat, dan udang di pikirannya.
Suka menulis perjalanannya di http://ivetarh.blogspot.com/

Berkenan

Selamat telah menjadi satu-satunya pemberi semangat di setiap buka-tutupnya rana, menebarkan sejuk di setiap barisan titik warna, dan memeluk hangat setiap bidang lukisan cahaya. Terima kasih.

Ketahuilah, sementara sudut kiri masih mencaci maki diri sendiri di atas sikap tak sudimu, sudut kanan masih tersenyum di belakang amarahmu. Semoga segera menghilang.

… dan bahagia.

Nostera Eveen

Aku tau kau akan menguliti seluruh harapanku jika ada kesempatan. Aku tau kau akan menendang kehadiranku di depan matamu, jika aku mengiyakan. Aku tau kau akan pergi bersama gelagat tak sudimu yang semakin hari semakin nyata. Aku tau kau tak akan pulang. Silakan pergi. Aku selesai.

Habis sudah rasa manis di sekujur permen karet merah muda. Rasa hambar telah menyelimutinya. Ia hanya tinggal menunggu digulung-gulung di kertas kusam dan dibuang.

Kadang ia tertelan atau sengaja ditelan, lalu disalahkan banyak orang.

Kadang ia terinjak hingga terputus-putus, lalu dimaki tiada henti.

Ia hanya digerus oleh barisan gigi-gigi haus liur di dalam rongga mulut yang tak sudi mengenal rasa pahit.

Ia dielu-elukan, lalu dimusnahkan.

Aku ingin menghilang bersama harapanmu. Mati di atas pangkuan memori berdebu di depan rumahmu.

Aku ingin tertelan di antara rongga-rongga kesombonganku sendiri. Enyah bersama liur-liur angkuh yang entah kapan bisa mengering.

Aku ingin tenggelam di antara riak-riak kebencianmu. Kehabisan oksigen di antara aliran amarahmu.

Aku ingin tergerus di antara gerigi-gerigi kekecewaanku sendiri. Terbang bersama debu-debu cengeng yang tak berdasar di bawah kakimu.

Pada Suatu Hari

Aku pulang dengan segenggam bunga matahari di tangan kiri. Pandanganku segera terkunci di sudut ruang beraroma kafein ini. Kulihat kau berdiri sambil tersenyum, lalu menghampiri.

Aku tahu kau akan segera pergi setelah ini. Raut wajahmu penuh dengan kesedihan yang semakin mahir bersembunyi. Aku tahu hati dan otak akan kembali berkelahi, tapi aku tak pernah peduli lagi.

Aku pulang dan kau akan pergi. Selalu begitu dan tak pernah berhenti.

Aku ingat saat kau mulai mengikatkan rindu pada sebuah tiang, lalu melilitkan untaiannya kepadaku dengan sangat erat. Saat itu kau tersenyum sambil berjalan mundur. “Coba saja berlari menjauh, justru itu membuat lilitannya semakin kuat,” katamu.

Selamat dan Segeralah Pergi.

Sejak terakhir kali empat kaki berjalan satu arah di antara ribuan lainnya, aku masih terlilit dengki, muntah karena harapan, dan memar karena iri.

Coba lihat ke sebrang meja. Masih ada kertas emas yang kusam di antara rantai besi yang semakin berkarat.

Mereka bilang dengki bisa membuatmu mati. Aku bilang dengki bisa membuatku bunuh diri.

Lihat, aku masih ada di dalam sini, masih belum mau diselamatkan. Di sini gelap, tapi telinga masih bisa mendengar sayup-sayup sorak sorai keberhasilanmu. Selamat ya. Aku sedang berusaha bangga di antara usaha-usaha lain untuk melupakanmu.

Keadaan ini mungkin akan semakin buruk. Tapi tak apa, selama hasilnya bisa membuatmu tak lagi ada.

Selamat berenang-renang di antara kesenangan dan kemenanganmu. Selamat.

Repetisi

Aku telah lama menghilang. Tenggelam di antara serbuan air hujan. Kedingan. 

Samar-samar di ujung jalan, duka sedang bersiap untuk berdiri. Sementara itu, raga telah siap menjadi serpih. Hingga ia membuka payung, lalu datang lah pelangi. 

Aku hanya menatap, lalu mendadak lupa cara berterima kasih. Senyumnya mengembang dengan setiap sudut yang menghitam, retak, dan berlumut. 

Ia membawa duri yang ia simpan di dalam saku. Wajahnya bersinar, hingga Ia menunduk, lalu menyusut. Menghitam. Menghilang.

… lalu pada akhirnya, setiap bunga akan kehilangan mahkotanya.

Sadar

Roda masih berputar di balik layar. Sebentuk senyum masih sanggup membuat logika menjadi buyar. Sapa dan peluk tak tahu kapan bisa terbayar. Rasa penasaran masih terus berlayar. 

Sementara sesal masih menempel di ujung-ujung memar, rangkaian kata masih tetap bermuka kasar. Benci telah semakin kuat berakar. Kebahagiaan telah mati tertusuk pagar. Masih bisa berpura-pura tegar?

dari Mawar di Balik Jendela
Menatap matahari saja aku tak mampu. Hanya bisa bermandikan cahaya dari balik sini, penjara. Sekarat karena manusia. Indah yang sengsara.

Selamat

Dengan segala rasa sakit di ujung kawat, sinarmu tetap menyengat, semu, dan berkarat. Selamat, telah mencapai titik ini dengan semangat. Terima kasih, telah berubah dan menjauh membuat sekarat. Segeralah terlewat.

Cerita Pohon

Aku ini pohon yang dengan senang hati memberikan kesejukkan di setiap tarikan napas, melindungi dari serangan beribu tusuk sinar matahari, dan rela kehilangan beberapa lengan untuk menyatu dengan api, sekadar menghangatkanmu.

Aku ini pohon yang pada akhirnya dengan yakin kau hancurkan, rata dengan tanah, hanya untuk memberi ruang kepada pelindung semu yang tak akan bisa memberikan semua yang telah kuberi, yang kau sebut ia sebagai rumah.

"Aku pernah menghindar terlalu semangat, terlempar, menabrak sana dan sini, sampai akhirnya terpental ke tempat semula."

IR

Seperti kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi, aliran darah melaju tanpa kompromi, membuat tangan harus berpegangan pada kenyataan penuh gerigi, saat menatap matamu lagi.